Minggu, 10 Oktober 2010

Hasil Belajar Menulis Cerpen :D

Cerita yang saya tulis ini adalah berdasarkan kisah yang ditanyangkan dalam acara Kick Andi episode "Mati Suri" yang kemudian saya adopsikan menjadi sebuah cerpen, berikut adalah cerpennya. :)

Terimakasih Tuhan, Kau Izinkan Aku Mati
Oleh Galang Mu’ammar Katumbirian
Tubuhku terbaring lemah tak berdaya, seperti itulah Aku saat ini. Matahari di senja itu pun seakan berkata padaku, “Tataplah Aku sepuas hatimu sebelum dirimu tak lagi dapat melihat ku”. Ya, ini adalah detik detik terakhir dalam hidupku, Aku telah berada di ambang kematianku. Aku menyerah. Aku sudah tak sanggup lagi menahan ganasnya kanker otak yang telah membelungguku. Penyakit ini telah meruntuhkan semangat hidupku, merampas kebahagiaanku.
Hari ini tak seperti hari hari biasa nya, Paman ku begitu panik meminta pertolongan bagi ku. Kebingungan yang luar baisa sangat nampak di wajahnya. Aku yang saat itu hanya dapat terbaring, samasekali tidak tahu apa yang harus Aku lakukan. Aku bertanya pada diriku, mungkinkah ini ajalku? Mungkinkah ini akhir dari perjuangan hidupku di dunia?.
Semua hipotesa ku saat itu semakin mendekati kenyataan ketika tiba tiba  jatungku seakan terhunus sebilah pedang yang sangat tajam yang seketika menghentikan denyut jantugku. Aku samasekali tak berdaya. Aku tidak bisa lari dari ini semua. Belum habis rasa sakit yang ku rasakan, tibatiba kulit yang selama ini menyelemuti tubuhku mengelupas dan tidak lama setelah itu ruh ku secara perlahan mulai terpisah dari jasad ku, dimulai dari jari jemari kaki ku hingga ke ubun ubun kepala ku dan hingga pada akhirnya Aku dapat melihat jasad ku yang terbujur kaku tak bernyawa. Sejak itulah Aku sadar bahwa waktu ku telah habis, Aku telah berada di kehidupan yang berbeda, alam ku pun kini telah berbeda dan waktu dimana aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku akan tiba.
Meski terhitung singkat, detik detik pencabutan nyawaku merupakan bentuk penderitaan terbesar dalam hidupku. Kanker otak yang membelengguku samasekali bukan tandingan dengan sakitnya saat Aku berada pada fase akhir perjalanan hidupku di dunia.
Tak lama setelah itu, nampak dua sosok makhluk yang kurang jelas perawakannya menghampiriku. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan padaku, “Siapa Tuhan mu?” “Siapa pemimpin mu?” “Dimana kiblat mu?” dan beberapa pertanyaan lain. Tanpa Aku sadari mulutku menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut dengan sendirinya.
Usai menjawab pertanyaaqn yang mereka lontarkan, mereka membawa ku kesebuah padang pasir yang sangat lapang. Kemudian Aku dibawa kesebuah tempat yang Aku sendiri tidak tahu tempat apa itu. Satu hal yang pasti, di tempat inilah Aku menemukan pembelajaran yang luar biasa yang tidak mungkin aku dapatkan dimanapun. Aku di perlihatkan bagaimana Tuhan menghukum umat Nya. Bagi mereka yang gemar bergunjing atau menyebarkan fitnah, Tuhan akan menghukumnya dengan menusukkan besi panas dari mulut hingga menembus duburmya. Dan bagi mereka yang gemar berzinah, Tuhan menghukumnya dengan membakar kemaluan mereka dengan api yang sangat panas. Dan masih banyak lagi penderitaan lain yang tak kalah mengerikan.  Naudzubillah min dzalik.
Melihat itu semua, hatiku sontak tergetar kemudian Aku bartanya pada lubuk hati ku yang terdalam, mungkinkah Aku akan bernasib seperti mereka? Atau bahkan mungkin nasib ku akan jauh lebih menderita daripada mereka. Belum sempat satu pertanyaan terjawab, pertanyaan pertanyaan lain justru semakin banyak berkerumun di kepalaku. Namun Aku sadar, Aku hanya dapat memasrahkan diriku sepenuhnya pada Tuhan.
Saat Aku terdiam dan tercengang melihat penyiksaan itu, kedua sosok itu kembali mengantarkan ku kesebuah tempat, kali ini mereka mengantarkan ku ke tempat dimana terdapat seberkas cahaya yang begitu terang, cahaya yang memeberikan kehangatak yang luar biasa pada diriku. Dan dalam sekejap tanpa Aku sadari kini ruh dan tubuhku kini telah bersatu, Aku hidup kembali, Tuhan masih memeberiku kesempatan untuk hidup.
Sejak pengalaman religius itu, hidupku kini jauh lebih baik. Kini Aku menjadi pribadi yang jauh lebih optimis dalam menghadapi masalah dan menjalani hidup termasuk dalam peyembuhan penyakitku ini. Dan juga kini Aku jauh lebih berhati hati dalam bertindak dan berucap. Semoga Tuhan senantisa memeberi keberkahan dalam hidupku. Sekali lagi Terima kasih Tuhan, Terima kasih Engkau telah izinkan Aku merasakan kematian.
[ *Saya sangat sadar karya ini sudah pasti masih memiliki banyak kekurangan, jadi saya mohon maaf karena saya sendiri masih dalam proses pembelajaran. :) ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar