Sabtu, 23 Oktober 2010

Masa Masa SMA :)

Saya adalah pelajar di SMA Negeri 105 Jakarta dan kini saya telah berada di kelas 3. Itu artinya sesaat lagi saya akan meninggalkan bangku sekolah (amin) dan melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi. Disatu sisi saya senang bisa segera lulus, karena itu artinya saya sudah selangkah lebih maju dari sebelumnya dan saya semakin dekat dengan mimpi saya untuk kuliah di luar negeri dan menjadi seorang Arsitek yang besar (amin). Namun disatu sisi saya juga sedih karena semakin cepat saya lulus maka itu artinya semkain cepat dan semkain besar pula kemungkinan saya untuk berpisah dengan teman teman saya. Di SMA saya juga memiliki sahabat sahabat yang luar biasa yaitu Aldy, Arief, Ryan, Hagi, Dinda, Dini, Tanell, Fara, Garnis dan Cebe. Masing masing dari mereka memberikan warna yang berbeda dalam persahabatan ini dengan masing masing kelebihan dan kekurangannya. Dan hal inilah menurut saya mengapa masa SMA bisa dikatakan sebagai masa masa yang paling indah. :)

Persahabatan kami bermula ketika setelah liburan 11 IPA B ke puncak kami sering berkumpul bersama sekalipun hanya untuk saling berbincang dan bersenda gurau. Lama kelamaan kami semakin dekat dan sebagai bahan lelucon, kami menamai diri kami sebagai "Hagi and The Banteng & Dinda and The Domba" haha :D . Namun persahabatan kami tidak berjalan lancar lancar saja, kami sempat bermasalah dengan anak anak 11 IPA B yang lain karena di anggap terlalu "nge gank" , namun setelah di bicarakan secara baik baik, meskipun awalnya sempat ada adu mulut bahkan saling sindir di Twitter, masalah ini pun bisa selesai dan keadaan kelasa kembali kondusif. :)

Hal lain yang tentunya akan sulit untuk dilupakan adalah tentang "cinta" haha :D . Hhm sepertinya saya akan sedikit sulit untuk menceritakan tentang hal ini :p , tapi saya akan coba menceritakan saya semampunya. Selama SMA ( saat ini ) saya dua kali dekat dengan sesorang, yang pertama adalah Tanell, saya dekat dengan dia di kelas 11, kurang lebih selama dua bulan, namun karena satu atau dua hal hubungan kami kembali seperti sebelumnya yakni sebagai teman. 

Yang kedua, saya dekat dengan Suci yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat dari  Tanell, Hehe . Saya sendiri tidak tahu bagaiman awalnya sehinggal saya bisa dekat dengan dia, sama sekali tidak terpikir sebelumnya bahkan saya baru kenal dia menjelang akhir akhir kelas 11. Semuanya mengalir begitu saja bahkan hingga saat ini saya sendiri tidak mengerti kenapa bisa seperti itu. Tapi yang pasti seperti ada yang berbeda ketika saya sedang dengan dia, hehehe :p .  Dan kalau boleh jujur, sebenarnya beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 20 Oktober 2010 saya sudah berniat untuk bilang semua nya, tapi karena satu dua hal, niat tersebut urung saya lakukan. Dan hingga saat ini saya masih belum tahu kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya, hehe :p . Sudah cukup cinta cintaan nya, untuk kelanjutannya lebih baik di postingan yang akan datang saja, :p haha

Selain dua hal itu, masih banyak lagi hal yang luar biasa di masa SMA, yaitu di SMA lah saya memiliki guru guru yang luar bisa termasuk dalam memeberikan tugas, hehe ^^ , serta di SMA pula saya menemukan segala macam bentuk pembelajaran yan gbermuara kepada proses pendewasaan diri.  Belum lagi gelak tawa yang semakin membuat masa SMA aka semakin sulit untik dilupakan. Dan masih banyak lagi pegalaman pengalaman hidup lain yang luar biaasa di SMA. Saya beruntung bisa merasakan masa masa ini. dan saya akan selalu mengingat masa masa ini sampai kapan pun. :)

Minggu, 10 Oktober 2010

Kembali ke Tujuan Awal. :)

Masih ingat postingan saya tentang Fakultas itu? ya, setelah saya pikir pikir kembali spertinya saya tetap kepada pilihan awal saya untuk mengambil jurusan Teknik Arsitektur dan Matematika IPA. karena tidak bisa di pungkiri saya merasa dua hal itu memang merupakan bakat dan cita cita saya sejak kecil. Jadi saya akan berusaha sekeras mungkin untuk dapat mencapai mimpi itu, dan juga saya akan senatias berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar saya selalu diberi kemudahan dan kesabaran dalam mengejar itu semua. Amin :)

Hasil Belajar Menulis Cerpen :D

Cerita yang saya tulis ini adalah berdasarkan kisah yang ditanyangkan dalam acara Kick Andi episode "Mati Suri" yang kemudian saya adopsikan menjadi sebuah cerpen, berikut adalah cerpennya. :)

Terimakasih Tuhan, Kau Izinkan Aku Mati
Oleh Galang Mu’ammar Katumbirian
Tubuhku terbaring lemah tak berdaya, seperti itulah Aku saat ini. Matahari di senja itu pun seakan berkata padaku, “Tataplah Aku sepuas hatimu sebelum dirimu tak lagi dapat melihat ku”. Ya, ini adalah detik detik terakhir dalam hidupku, Aku telah berada di ambang kematianku. Aku menyerah. Aku sudah tak sanggup lagi menahan ganasnya kanker otak yang telah membelungguku. Penyakit ini telah meruntuhkan semangat hidupku, merampas kebahagiaanku.
Hari ini tak seperti hari hari biasa nya, Paman ku begitu panik meminta pertolongan bagi ku. Kebingungan yang luar baisa sangat nampak di wajahnya. Aku yang saat itu hanya dapat terbaring, samasekali tidak tahu apa yang harus Aku lakukan. Aku bertanya pada diriku, mungkinkah ini ajalku? Mungkinkah ini akhir dari perjuangan hidupku di dunia?.
Semua hipotesa ku saat itu semakin mendekati kenyataan ketika tiba tiba  jatungku seakan terhunus sebilah pedang yang sangat tajam yang seketika menghentikan denyut jantugku. Aku samasekali tak berdaya. Aku tidak bisa lari dari ini semua. Belum habis rasa sakit yang ku rasakan, tibatiba kulit yang selama ini menyelemuti tubuhku mengelupas dan tidak lama setelah itu ruh ku secara perlahan mulai terpisah dari jasad ku, dimulai dari jari jemari kaki ku hingga ke ubun ubun kepala ku dan hingga pada akhirnya Aku dapat melihat jasad ku yang terbujur kaku tak bernyawa. Sejak itulah Aku sadar bahwa waktu ku telah habis, Aku telah berada di kehidupan yang berbeda, alam ku pun kini telah berbeda dan waktu dimana aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku akan tiba.
Meski terhitung singkat, detik detik pencabutan nyawaku merupakan bentuk penderitaan terbesar dalam hidupku. Kanker otak yang membelengguku samasekali bukan tandingan dengan sakitnya saat Aku berada pada fase akhir perjalanan hidupku di dunia.
Tak lama setelah itu, nampak dua sosok makhluk yang kurang jelas perawakannya menghampiriku. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan padaku, “Siapa Tuhan mu?” “Siapa pemimpin mu?” “Dimana kiblat mu?” dan beberapa pertanyaan lain. Tanpa Aku sadari mulutku menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut dengan sendirinya.
Usai menjawab pertanyaaqn yang mereka lontarkan, mereka membawa ku kesebuah padang pasir yang sangat lapang. Kemudian Aku dibawa kesebuah tempat yang Aku sendiri tidak tahu tempat apa itu. Satu hal yang pasti, di tempat inilah Aku menemukan pembelajaran yang luar biasa yang tidak mungkin aku dapatkan dimanapun. Aku di perlihatkan bagaimana Tuhan menghukum umat Nya. Bagi mereka yang gemar bergunjing atau menyebarkan fitnah, Tuhan akan menghukumnya dengan menusukkan besi panas dari mulut hingga menembus duburmya. Dan bagi mereka yang gemar berzinah, Tuhan menghukumnya dengan membakar kemaluan mereka dengan api yang sangat panas. Dan masih banyak lagi penderitaan lain yang tak kalah mengerikan.  Naudzubillah min dzalik.
Melihat itu semua, hatiku sontak tergetar kemudian Aku bartanya pada lubuk hati ku yang terdalam, mungkinkah Aku akan bernasib seperti mereka? Atau bahkan mungkin nasib ku akan jauh lebih menderita daripada mereka. Belum sempat satu pertanyaan terjawab, pertanyaan pertanyaan lain justru semakin banyak berkerumun di kepalaku. Namun Aku sadar, Aku hanya dapat memasrahkan diriku sepenuhnya pada Tuhan.
Saat Aku terdiam dan tercengang melihat penyiksaan itu, kedua sosok itu kembali mengantarkan ku kesebuah tempat, kali ini mereka mengantarkan ku ke tempat dimana terdapat seberkas cahaya yang begitu terang, cahaya yang memeberikan kehangatak yang luar biasa pada diriku. Dan dalam sekejap tanpa Aku sadari kini ruh dan tubuhku kini telah bersatu, Aku hidup kembali, Tuhan masih memeberiku kesempatan untuk hidup.
Sejak pengalaman religius itu, hidupku kini jauh lebih baik. Kini Aku menjadi pribadi yang jauh lebih optimis dalam menghadapi masalah dan menjalani hidup termasuk dalam peyembuhan penyakitku ini. Dan juga kini Aku jauh lebih berhati hati dalam bertindak dan berucap. Semoga Tuhan senantisa memeberi keberkahan dalam hidupku. Sekali lagi Terima kasih Tuhan, Terima kasih Engkau telah izinkan Aku merasakan kematian.
[ *Saya sangat sadar karya ini sudah pasti masih memiliki banyak kekurangan, jadi saya mohon maaf karena saya sendiri masih dalam proses pembelajaran. :) ]